Posted by: permadik | August 13, 2009

SURABAYA dan Likunya

Udah lama banget gak berkunjung ke kota yang bersejarah ini, entah telah berapa banyak pahlawan yang gugur dalam mempertahankan kota ini.

Surabaya dah beda banget dengan saat 4 tahun yang lalu..mall-mall skrng dimana2, udah keramean..yang gak berubah ya puanasnya dan juga salah satu tempat yang tak pernah hilang walau tidak nyaman dipandang mata..nanti kita ulas sedikit tentang apa itu.

Hotel yang saya inapi adalah hotel lama yang kebetulan deket dengan pusat kota dan stasiun Gubeng, tapi walau dekat ya kalo naek angkot tetap jauh karena jalan raya di Surabaya ini mirip dengan bandung, banyak satu arahnya.

Tujuan pertama disini untuk rakor arus mudik, pertemuan ini rutin untuk menyiapkan rencana kerja saat liputan nanti, selebihnya pengen liat suramadu dan jalan-jalan.

SURAMADU
Jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura ini belum lama diresmikan oleh Pak SBY, dahulu kalo mau nyebrang ya naek ferry, selain lama bayarnya juga mahal 60.000, semenjak ada tol suramadu cukup ditempuh dengan 15 menit saja dengan biaya 30ribu.

Saya sih bangga karena ni jembatan selain paling panjang di Indonesia juga terpanjang di dunia, 5 kilometer lebih membentang dari Surabaya ke Madura.

Treknya lurusss..dengan pemandangan motor laut tenang.. kanan kiri ada trek motor lebarnya masing-masing 3 meter, tepat ditengah tol ada menara tali yang membedakan dengan jembatan lainnya..

Karena ini jembatan terpanjang di Indonesia, jadilah tempat ini obyek wisata yang cukup menarik bagi orang2 yang melintasi jalan ini..ceprat cepret…bener aja banyak yang foto di bahu jalan, walau sebenernya dilarang tapi ya namanya warga Indonesia gak Indonesia kalo gak gitu.

Pak polisi pun pura-pura cuek sambil maenan ht. sambil sesekali melirik ke kerumunan norak yang lagi motret gaya2 dijembatan..

Melihat gelagat yang aman, wah terpaksa nih turun ikutan norak, Cuma pilihannya tepat dibawah menara tali yang cukup keren kalo motret dari bawah..ada nih fotonya

SIDOARJO
Kalo ke Surabaya gak afdol kalo gak ke tempat ini, apalkagi kalo bukan beli oleh-oleh kerupuk, terasi, petis, dll..

Cukup 1 jam dari pusat kota kearah tol sidoarjo, kita sampe di salah satu pusat oleh oleh Tanjung , hamper tiap weekend tempat ini penuhh kata si enci yang jagain toko. Mulai dari ibu –ibu sampe anggota DPR banyak mas yang kesini, tegasnya.

Sambil jalan-jalan bawa keranjang, eh gak sadar udah penuh dan terasa berat, terpaksa cek lagi mana yang perlu di beli dan tidak, abis di sortir dapatlah kerupuk udang, terasi, petis, bumbu pecel, madu mongso, dan kerupuk ikan..habislah kira-kira 180ribu, abis itu lanjut pulang ke kota Surabaya dengan niat melewati Dolly.

DOLLY RIWAYATMU DULU DAN KINI
Jejak-jejak perjuangan sepanjang kota masih terlihat dengan beberapa gedung-gedung dan jembatan yang masih terlihat tua, menyusuri jalan yang agak ramai mobil kami masuk ke sebuah perkampungan yang suasananya beda banget.

Di sini rameee, banyak orang, tukang ojek, pria2 yang berkerumun di depan café..menunggu tamu-tamu yang mau mampir, ndak jauh agak kedalam barulah terlihat pemandangan yang daru dulu sudah ada..rumah dengan penutup kaca transparan berisi wanita-wanita berbalut busana minim sedang bercanda-canda sesama teman wanitanya, cewe-cewe ini gak keliaran di jalan, cukup duduk dan menunggu ada yang nunjuk mereka, entah berapa kisaran harganya, tapi menurut sumber sekitar 300-500ribu.

Hampir puluhan mungkin rumah-rumah semacam ini, dan menjadi ladang yang subur bagi siapa saja yang berkecimpung di bisnis ini, mulai dari pelaku utamanya, tukang ojek, tukang parkir, calo, keamanan setempat bahkan sampe tingkat atas barangkali..phufff nikmat manalagi yang kami dustakan dihadapan Mu Ya Allah SWT.

ASIKNYA PAGI DI ONDOMOHEN
Malam setelah pemandangan Dolly berlalu, aku mulai lagi mengexplorasi kota ini, niatnya sih sarapan di Sate Klopo…bukan kelapa di sate lho..
Jam 7 udah caw dari hotel naek angkot “N” jurusan walikota, Cuma 5 menit kita turun di sebelum persimpangan ujung jalan ondomohen.

Disisi kanan sudah terlihat di pintu gank sempit “ Sate Klopo”, kerumunan orang sudah terlihat banyak ada 10 orang yang sedang antri, sementara 3 ibu-ibu tengah baya sedang kipas2 sate, dibelakangnya ada warung minuman biasa yang digunakan untuk tempat duduk, sebagian lagi duduk dibawah pohon rindang. Cukup nyaman disini karena walau cuaca Surabaya panas tapi disini tetep adem krn banyak pohon besar.

Bu pesen 1 porsi pake lontong, minumnya the pahit ya..aku langsung duduk dibawah pohon dekat trotoar jalan, sekitar 5 menit pesanan dah jadi..sate sapi dibalut kelapa parut lalu dipanggang sampe coklat, lontongnya terpisah dipotong besar2 dan ditaburi serundeng, disampingnya the pahit..wahh passss

Satenya gurih banget, tapi gak ngilangin rasa daging sapinya..Cuma ini lebih empuk, lontongnya juga padet jadi dijamin tendangannya sampe ke perut dalem..bughhh..

Penjual ini memang barangkali Cuma 1 di sini, jarang yang ikutan dan tidak ada cabangnya barangkali.
Setelah puas, bayar 15 ribu dan kembali naek angkot N menuju Kapal Selam Pasopati didepan hotel Sahid.

KAPAL SELAM PERTAMA DI INDONESIA
Pasopati namanya, panjangnya hampir 100 meter..dengan membayar 5000 kita bisa lihat seisinya, kapal ini waktu dipindah kesini awalnya dipotong-potong lalu disatukan kembali, kebayang dah gimana motongnya..berapa ratus orang Madura pasti dikerahkan.

Dibuat tahun 1950an dan sempat digunakan untuk patroli TNI AL, kini hanya terongkok di jalan pemuda sebagai ornament kota dan tempat wisata, didalam kapalnya kita bisa liat ruang-ruang kelasi, ruang kemudi, ruang makan, ruang torpedo..semuanya dibagi dalam 9 ruang yang dihubungan dengan pintu bulat berdiameter 60 cm, jadi kalo papasan mesti gentian.

Setelah puas jalan-jalan gak sadar teringat take off 2 jam lagi, langsung deh kabur ke hotel dan cek out..back to Jakarta


Leave a response

Your response:

Categories